Menu

Mode Gelap
Hasil Nyata PHC Membuat Petani Kopi Lebih Cepat Panen Prakiraan Cuaca Terbaru Provinsi Lampung Senen 18 mei 2026 PWI Lampung Bersama KONI Lampung Mematangkan Persiapan Penyelenggaraan PORWANAS Di Lampung 2027. 1800 Atlit Taekwondo-Memperebutkan Piala Gubernur Cup.2026 Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027

Uncategorized · 11 Jul 2026 18:36 WIB ·

Alzier Mengutuk Keras Dugaan Kelalaian Petugas Way kambas atas matinya gajah


 Alzier  Mengutuk  Keras  Dugaan Kelalaian Petugas Way kambas atas matinya gajah Perbesar

Alzier Mengutuk Keras Dugaan Kelalaian Petugas Way Kambas atas Kematian Gajah Indra

 

Kematian Gajah Indra Disorot, Tokoh Masyarakat Minta Evaluasi Total Pengelolaan TNWK

 

Alzier Desak Evaluasi Total TNWK Usai Kematian Gajah Indra

 

Alzier Mengutuk Keras Dugaan Kelalaian Kematian Gajah Indra, Minta Way Kambas Dievaluasi Total

 

Alzier Murka! Minta Way Kambas Dievaluasi Total Usai Kematian Gajah Indra

 

 

Lampung Timur—Kemarahan publik memuncak. Tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie, melontarkan kecaman keras terhadap aparat konservasi di Taman Nasional Way Kambas.

 

Ia menuding adanya kelalaian serius yang diduga menjadi penyebab kematian Gajah Sumatera bernama Indra satwa konservasi yang telah mengabdi selama lebih dari tiga dekade.

 

“Ini bukan kematian biasa. Ini akibat kelalaian sistemik para petugas! Untuk apa negara menempatkan petugas jika pada akhirnya membiarkan satwa tua yang telah berjasa besar mati tanpa penanganan maksimal?” tegas Alzier, Sabtu (11/7/2026).

 

Indra, gajah jantan berusia 42 tahun asal Desa Karang Sari, mengembuskan napas terakhir pada 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.

 

Namun, menurut Alzier, kematian tersebut tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan faktor usia.

 

Ia menilai terdapat rangkaian persoalan dalam proses perawatan yang patut dievaluasi secara menyeluruh.

 

Kronologi yang Disorot: Ambruk di Rawa, 20 Jam Upaya Penyelamatan Tak Mampu Menyelamatkan Nyawa

 

Alzier mengungkapkan, persoalan kesehatan Indra diduga bermula pada akhir 2017 ketika kendaraan pengangkut yang membawanya mengalami kecelakaan usai membantu penanganan konflik satwa di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Akibat Insiden itu, menyebabkan cedera pada tulang belakang Indra.

 

“Seharusnya sejak 2017 petugas memberikan penanganan maksimal. Yang terjadi justru Indra dipensiunkan, sementara kondisi kesehatannya terus menurun tanpa penanganan yang benar-benar optimal,” ujar Alzier.

 

Menurutnya, puncak dugaan kelalaian terjadi pada 21 Juni 2026. Saat sedang mandi di area rawa, Indra tiba-tiba ambruk ketika hendak kembali.

 

“Ini yang menjadi pertanyaan besar. Gajah yang puluhan tahun beraktivitas di hutan mendadak ambruk. Artinya, ada yang tidak beres dalam pengawasan kondisi kesehatannya selama ini,” kecamnya.

 

Tim penyelamat kemudian berupaya memberikan pertolongan selama lebih dari 20 jam. Namun, seluruh upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa Indra.

 

“Dua puluh jam upaya penyelamatan itu hanyalah tindakan darurat di akhir. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana pengawasan dan perawatan dilakukan selama bertahun-tahun sebelumnya,” sindir Alzier.

 

*Tiga Dekade Mengabdi, Berakhir dengan Dugaan Kelalaian*

 

Alzier mengingatkan bahwa Indra bukan sekadar gajah jinak biasa. Sejak 1995, satwa tersebut menjadi bagian penting dalam berbagai operasi konservasi, mulai dari penanganan konflik manusia dan satwa liar, penggiringan gajah liar, hingga membantu menjaga kawasan hutan di berbagai wilayah Lampung.

 

“Indra telah menjadi pelindung hutan dan membantu manusia selama puluhan tahun. Namun ketika usianya menua dan kesehatannya menurun, apakah negara telah benar-benar membalas pengabdiannya dengan perawatan yang layak? Itu yang patut dipertanyakan,” katanya.

 

Menurut Alzier, kepergian Indra menjadi catatan serius bagi dunia konservasi.

 

“Pejuang seperti Indra bahkan tidak sempat memperoleh penghormatan yang layak. Jika benar ada kelalaian dalam perawatannya, maka ini menjadi aib yang harus dievaluasi secara terbuka,” tegasnya.

 

*Tuntutan Tegas: Evaluasi Total atau Bubarkan!*

 

Di akhir pernyataannya, Alzier mendesak pemerintah dan pengelola Taman Nasional Way Kambas melakukan evaluasi total terhadap sistem perawatan satwa konservasi, termasuk meminta pertanggungjawaban pihak yang dinilai lalai.

 

“Untuk apa negara menganggarkan biaya besar jika pengawasan dan kepedulian terhadap satwa konservasi tidak berjalan maksimal? Kami meminta evaluasi menyeluruh serta sanksi tegas apabila ditemukan adanya kelalaian dalam perawatan Indra. Jangan sampai peristiwa seperti ini kembali terulang,” pungkas Alzier.

 

Meski jasad Indra telah dimakamkan di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Alzier menegaskan bahwa pengabdian gajah tersebut tidak boleh dilupakan. Ia berharap kematian Indra menjadi momentum pembenahan serius dalam pengelolaan satwa konservasi di Indonesia.

 

“Hutan yang selama ini ia jaga akan kehilangan salah satu penjaganya. Kini giliran kita sebagai manusia memastikan tidak ada lagi satwa berjasa yang bernasib sama akibat kelalaian yang seharusnya bisa dicegah,” tutup Alzier. (*)

Artikel ini telah dibaca 44 kali

Avatar badge-check

Redaksi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Muli Salma Arsila Siswi SMAN1 Gedung Tataan menorehkan Prestasi

30 Juli 2026 - 08:27 WIB

Ketua Kwarda Pramuka Lampung Buka KPDK 2026

30 Juli 2026 - 08:23 WIB

Menyoroti maraknya Money politik di Pilkades

30 Juli 2026 - 04:08 WIB

Pemprov Lampung dan DPRD Lampung matangkan Penyusunan APBDP 2026.

28 Juli 2026 - 11:14 WIB

Bunda Literasi Lampung Dorong Perpustakaan Menjadi Ruang Rekreasi dan Edukasi keluarga

28 Juli 2026 - 06:54 WIB

SIWO PWI Lampung Tuntaskan Seleksi Cabor Tensi Meja.

27 Juli 2026 - 15:57 WIB

Trending di Uncategorized
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x