_*Anshori Djausal*_ adalah seorang tokoh multitalenta asal Lampung yang dikenal luas sebagai akademisi, pakar _ferrocement_, perancang arsitektur ikonik Menara Siger di Bakauheni, serta budayawan dan pemerhati lingkungan.
Lahir di Kotabumi, Lampung Utara, ia merupakan lulusan S-2 Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila).
Menempuh pendidikan teknik sipil di ITB, ia aktif mengembangkan teknologi tepat guna seperti perahu ferrocement untuk nelayan serta berbagai infrastruktur pedesaan dan fasilitas keagamaan di Lampung.
Namanya sangat dikenal sebagai perancang Menara Siger, bangunan penanda atau ikon kebanggaan Provinsi Lampung di ujung selatan Pulau Sumatra. Ia juga aktif menggelar pameran seni dan kebudayaan, karyanya pernah dipamerkan di Galeri Grey Braga Bandung, dan hari ini beliau sendiri yang menjadi ikon dari pameran *”Kayu Ara: _Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung”_*.
Anshory Djausal banyak berperan dalam pelestarian nilai-nilai lokal, termasuk memperkenalkan falsafah hidup masyarakat Lampung (_*Nemui Nyimah, Pi’il Pesenggiri, Bejuluk Beadek, Nengah Nyappur, Sakai Sembayan)*_ melalui media visual dan perfilman seperti dalam film Ageman untuk membentengi generasi muda dari radikalisme.
Gurunda Anshory juga dikenal sebagai penggiat pariwisata, ahli fotografi udara, _kite aerial photography_, ahli layang-layang, ahli memancing dengan layang-layang, pembudidaya tanaman langka, inisiator taman kupu-kupu, penghutanan kembali lahan kritis, dan perancang dan inventor jalan satwa di berbagai jalan bebas hambatan di Sumatera.
Manusia sejuta talenta ini adalah paman saya. Istri beliau yang doktor ahli kupu-kupu dari ITB, adalah adik kandung Ayah saya. Tapi bagi saya beliau lebih dari sekedar paman, beliaulah Ayah kedua saya, sumber inspirasi yang pada gilirannya sangat mempengaruhi semua keputusan besar dalam hidup saya.
Jika Ayah saya memperkenalkan alam dan keindahan serta eksotika juga dunia dan memberi teladan tentang kesederhanaan, kejujuran, integritas, dan lurus pada niat dan tujuan, maka Om Anshory adalah manusia yang mesti bertanggung jawab pada “bucin” nya saya pada dunia sains dan teknologi.
Kecintaan yang membuat saya meniru semangat beliau untuk tidak membatasi dan memagari disiplin ilmu. Tak ada humaniora atau eksakta, tak ada ilmu budaya atau ilmu matematika. Semua data yang ada dapat kita pelajari dan jadikan bahan bakar untuk berinovasi lewat berbagai cara.
Keluarga beliau tak pelak adalah _role model_ keluarga cendekia. Tante yang doktor biologi punya ketelatenan luar biasa dalam membudidaya kupu-kupu dan berhasi mengubah sebuah hutan kota menjadi _sanctuary_ bagi spesies khas Sumatera. Lebih dari 200 spesies kupu-kupu kini menjadi bagian dari populasi yang mendapat habitat baru di Taman Kupu Kupu Gita Persada.
Dan nilai inti ini tampaknya diwariskan pada jeluarha, putri-putranya dan anak mantu hampir semua menjadi bagian dari kaum cendekia yang berjuang di jalan sunyi ilmu pengetahuan.
Ada yang mendalami ilmu hayati seperti sang Ibu, ada pula yang memilih teknik rekayasa dan kedokteran serta hubungan internasional yang semua tak berhenti belajar di strata sarjana.
Doktor kedua di keluarga ini akan segera hadir untuk memperkuat riset keluarga mereka yang lintas batas pengetahuan dan merambah sampai ke kedalaman rahim budaya.
Maka *Kayu Ara* yang menjadi tema dari pameran tentang seorang Anshory Djausal, yang pembukaannya dihadiri tak saja oleh sanak kerabat tercinta, tapi juga begitu banyak tokoh masyarakat, kaum cerdik cendekia, pejabat, dan seniman yang memeriahkan suasana, adalah pokok penanda bahwa seorang Anshory adalah sebatang pohon yang telah banyak memberi kesejukan, inspirasi, dan energi konstruktif bagi sirkelnya, bagi komunitasnya, bagi daerahnya, bagi negaranya, bahkan bagi dunia.
_*Kayu Ara*_ atau _Ficus variageta_ adalah kelompok tumbuhan berkayu dari genus Ficus; yang juga berkerabat dengan pohon beringin; yang dikenal memiliki getah putih, daun yang rimbun, serta struktur buah unik bernama sikonium. Punya banyak nama, termsuk pohon Kondang, dan banyak pula dijadikan bagian dari penamaan secara _toponimi_.
Dikenal pula sebagai Gondang, Nyawai, atau Libo, pohon ini adalah bagian penting dari ekosistem yang rindang, tempat burung bersarang, dan berbagai entitas hayati lainnya tumbuh dan berkembang. Pohon yang menahan air, menjadi obat, juga menjadi tempat berlindung dan bagian dari habitat untuk tumbuh kembang.
Pengantar pameran yang disampaikan oleh kurator yang merupakan anak muda Lampung perantauan bertalenta luar biasa; _Angga Wijaya_, sangat bernas dalam menggambarkan sosok “Kayu Ara” kita, yang menjadi sosok utama pameran karya yang membuat Indonesia dan dunia semestinya bersyukur bahwa ia pernah lahir dan hadir membersamai kita;
> Pameran ini menelusuri perjalanan Anshori Djausal sebagai insinyur dan budayawan melalui arsip foto, video, kliping koran, buku, gambar teknik, dan masterplan. Berbagai arsip tersebut disusun dalam instalasi kontemporer dengan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari presentasi dan pengalaman pameran. Di tengah perkembangan modernisasi dan teknokrasi pada masa Orde Baru seiak dekade 1970-an, Anshori Djausal mempraktikkan Teknologi Tepat Guna (ITG) melalui teknik ferosemen, dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan tempat teknologi tersebut digunakan. Praktik tersebut menjadi bagian dari pembentukan cara pandang Anshori terhadap hubungan antara teknologi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi perhatianyang lebihluas terhadap lingkungan dan kebudayaan Lampung hingga saat ini. PerjalananAnshori Djausal mengajak pengunjung untuk membaca kembali gagasan dlanpraktik tersebut serta mempertemukannya dengan persoalan masa kini, di tengah berbagai tantangan krisis ekologis dan memudarnya pengetahuan lokal. Pameranini dibagi dalam tiga fokus: _*Arsitektur dan Masyarakat, Teknologi dan Lingkungan, serta Budaya Lampung.*_ Tajuk Kayu Ara, yang merujuk pada simbol pohon kehidupan dalam kosmologi masyarakat Lampung, menjadi titik berangkat pameran untuk membaca persinggungan antararekayasa teknik, lingkungan, dan akar kebudayaan.
Sementara salah satu quote Om Anshory yang ditayangkan pada pameran itu adalah sebagai berikut :
> “Saya ini sekolah insinyur, di sekolah terbaik di lndonesia. IImu saya tentang beton. Kalau saya ke kampung, siapa yang bisa saya ajak omong tentang beton? Saya mesti omong tentang ikan, sungai, hutan, atau apa saja supaya saya punya alasan ngobrol.— _*AnshoriDiausal*_
Saya begitu terharu ketika dalam prosesi pembukaan pameran Kayu Ara tadi, Om Anshory me-mention khusus dalam pidatonya, kehadiran Brigjen TNI Indra Gumay Fitri dan saya. Beliau dengan penuh kehangatan dan keharuan seorang paman, menyitir lirik lagu Louis Armstrong–> “… I saw them grow and bloom…”, lalu beliau sedikit bercerita bahwa saya dulu dibelikannya buku-buku lokomotif dan kini saya menjadi ahli perkeretaapian yang ia banggakan. _Mbrebes mili_ nggak tuh…diceritakan di depan Ibu Gubernur dan segenap tamu undangan sambil saya diminta berdiri.
Rasanya air mata saya ingin tumpah ruah, terlebih jika saya menyadari bahwa ternyata dalam hidup ini bahagia itu sejatinya memang tak pernah datang dari diri sendiri. Al Fatihah untuk Ayah saya, dan doa yang terbaik untuk Om Anshory guru terbaik saya.
Tapi jika saya tak mengelaborasi tulisan ini menjadi tulisan yang memiliki muatan ilmu, berarti saya “mengkhianati” semangat yang Om Anshory telah tularkan pada saya semenjak dini bukan ? Dan karena di pameran Kayu Ara ada tampilan diagram pola pikir Teknologi Tepat Guna, maka izinkan saya menganalisa dan menyajikannya di sini.
Dalam diskursus pembangunan global dan rekayasa sosial, dominasi teknologi berskala masif dan padat modal kerap kali menciptakan alienasi struktural.
Pada paradigma arus utama, manusia sering direduksi sekadar menjadi roda penggerak sistem ekonomi makro, sementara sumber daya alam dieksploitasi melampaui daya dukung ekologisnya demi memfasilitasi percepatan industrialisasi.
Merespons krisis multidimensional dan alienasi ini, ekonom terkemuka E.F. Schumacher melalui karya monumentalnya, *Small Is Beautiful: _A Study of Economics as if People Mattered_*, merumuskan konsep *Intermediate Technology* atau Teknologi Tepat Guna.
Konsep ini menempatkan keseimbangan absolut antara tiga pilar ontologis utama: Manusia (*Human Matter*), Sumber Daya Lokal (*Local Resources*), dan Skala Manusia (*Human Scale*), yang berkonvergensi secara harmonis untuk menciptakan entitas komprehensif berupa Masyarakat yang Berkelanjutan (_*A Sustainable, Human-Centred Society*_).
Di Provinsi Lampung, gagasan filosofis Schumacher ini tidak berhenti sebagai utopia akademis, melainkan menemukan wujud praksisnya yang paling komprehensif, membumi, dan revolusioner melalui rekam jejak pengabdian Ir. H. Anshori Djausal, M.T.
Lahir di Kotabumi pada 13 Maret 1952, sosok ini merupakan akademisi senior, insinyur sipil, arsitek perancang monumen, budayawan, hingga aktivis ekologi yang kapasitas intelektualnya ditempa di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui pendidikan sarjana pada tahun 1980 dan magister pada tahun 1991.
Latar belakang akademisnya yang kuat tidak mengisolasinya di menara gading kampus; sebaliknya, Anshori mendedikasikan hidupnya untuk meretas batas-batas disiplin ilmu kaku yang selama ini memisahkan antara ilmu teknik, konservasi biologi, dan humaniora.
Karier profesional Anshori Djausal mencakup spektrum yang teramat luas. Sebagai akademisi, ia mengabdi sebagai Dosen Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) dari tahun 1983 hingga purna tugas pada 2017, memegang jabatan prestisius sebagai Dekan Fakultas Teknik, serta diakui sebagai Dosen Teladan I Unila dan Dosen Teladan V Nasional pada tahun 1994.
Di ranah internasional dan strategis, ia pernah berkiprah sebagai Dosen Tamu di *Asian Institute of Technology (AIT)* Bangkok, konsultan untuk *World Wide Fund for Nature (WWF*), serta memegang peran sentral sebagai Staf Ahli Gubernur Lampung, Ketua Dewan Riset Kabupaten Lampung Tengah, dan Wakil Ketua Komite Pariwisata Lampung.
Lebih jauh lagi, keterlibatannya tidak terbatas pada ilmu eksakta, melainkan merambah pada kekayaan intelektual (HKI) hukum perbankan syariah, seni fotografi udara, tata kelola koridor tata ruang *Blue-Green*, hingga inisiatif mitigasi bencana.
Berdasarkan struktur diagram Teknologi Tepat Guna yang merujuk pada pemikiran Schumacher, terdapat sebuah interaksi dinamis yang disimbolkan oleh panah siklik antara Manusia, Sumber Daya Lokal, dan Skala Manusia. Ketiga elemen ini tidak beroperasi dalam ruang hampa atau terisolasi satu sama lain, melainkan saling meregulasi untuk mencegah hegemonisme eksploitatif dari salah satu pilar atas pilar yang lain. Pemetaan ini esensial untuk memahami kerangka rasional di balik setiap karya Anshori Djausal.
Pilar konseptual Schumaker yang dikembangkan dalam skala praksis oleh Om Anshory Djausal terdiri dari 3 elemen pokok sebagai berikut;
– *Manusia (People Matter)*: Kualitas hidup, pemenuhan kebutuhan dasar, daya cipta, partisipasi aktif, keadilan sosial.Pelibatan komunitas dalam pembangunan infrastruktur desa, pengadopsian nilai _*Sakai Sambayan*_ (gotong royong) sebagai fondasi rekayasa, serta pameran karya cipta. Mencegah alienasi teknologi; menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan objek atau sekadar penonton dari kemajuan infrastruktur.
– *Sumber Daya Lokal (Local Resources)*: Bahan baku setempat, pemanfaatan energi terbarukan, keterampilan lokal, harmoni lingkungan. Penggunaan material komposit bambu-semen, pemanfaatan vegetasi endemik penahan air, serta ekskavasi filosofi Kayu Ara. Mereduksi ketergantungan pada rantai pasok material impor atau industri berat, serta memastikan kelestarian rantai ekologis setempat.
– *Skala Manusia (Human Scale)*: Mudah dipelajari, mudah dipelihara, biaya sangat terjangkau, dapat dikendalikan langsung oleh komunitas.
> Teknologi yang berakar secara kukuh pada ketiga pilar tersebut memiliki Prinsip Utama yang secara tegas menolak orientasi linier pada akumulasi kapital (keuntungan semata). Sebaliknya, teknologi ini dirancang secara spesifik sesuai dengan kebutuhan manusia yang fundamental, menggunakan sumber daya secara bijak, dan bertujuan memberdayakan masyarakat, bukan menggantikan mereka dengan otomasi membabi buta. Ciri-cirinya bertumpu pada desain skala kecil yang terdesentralisasi, sangat padat karya (labor intensive), dan memiliki ketahanan tinggi untuk diadaptasi pada kondisi klimatologi atau geografi setempat.
Salah satu sumbangsih paling fundamental, presisi, dan transformatif dari seorang Anshori Djausal dalam ranah rekayasa sipil adalah kepeloporannya dalam membawa, meneliti, dan mengaplikasikan teknologi ferosemen (*ferrocement*) di Indonesia. Salah satu Mitra penelitian dan aplikasi teknologi ferosemen ini adalah Ayah saya.
Riset intensifnya di bidang ini telah dimulai semenjak ia bertindak sebagai staf peneliti di ITB antara tahun 1977 hingga 1983. Puncak dari observasi dan eksperimentasi awalnya dikristalisasikan dalam sebuah publikasi monumental bertaraf internasional berjudul *”Nine Years of Ferrocement”* yang diterbitkan dalam Journal of Ferrocement (Volume 18, Nomor 2) pada bulan April tahun 1988.
Kiprah globalnya dalam bidang ini juga tercatat dalam partisipasinya di simposium-simposium internasional, seperti *International Symposium on Ferrocement and Thin Reinforced Cement Composites.*
Ferosemen adalah material komposit yang sangat inovatif, yang secara struktural terdiri dari susunan jaring kawat baja tipis berlapis (*wire mesh*) yang kemudian diisi dan dilapisi secara menyeluruh oleh mortar semen pasir dengan spesifikasi kelembapan dan kekuatan tertentu. Dalam kacamata mekanika bahan, material ini menawarkan spesifikasi yang luar biasa.
Berdasarkan standar penelitian teknis pada era tersebut, ferosemen mengandalkan jaring kawat dengan modulus Young (*Young’s modulus*) mencapai 2 x 10⅝ MPa untuk welded mesh dan 1.38 x 10⅝ MPa untuk *woven mesh*, dipadukan dengan kuat tekan kubus mortar (_cube strength of mortar_) sebesar 29,9 MPa.
Karakteristik material ini menghasilkan daya tahan tarik yang tinggi, fleksibilitas bentuk yang nyaris absolut, ketahanan luar biasa terhadap pelapukan atau korosi, dan yang paling utama: _*biaya produksi yang sangat efisien*_ alias murah.
Bila dianalisis melalui prisma sosiologi pembangunan, ferosemen di tangan Anshori Djausal bukan sekadar inovasi metrik struktural, melainkan manifestasi sempurna dari elemen Skala Manusia _*(Human Scale)*_ dalam diagram Teknologi Tepat Guna.
Paradigma konstruksi konvensional seringkali menuntut ketergantungan yang kaku pada ketersediaan alat berat bertenaga fosil, kontraktor korporat raksasa, dan rantai pasok beton prapabrikasi yang mahal. Pendekatan ini mewakili “sistem besar dan kompleks” yang secara inherent menciptakan ketergantungan masyarakat desa pada intervensi eksternal.
Sebaliknya, ferosemen mentransformasi proyek infrastruktur keras menjadi sesuatu yang “mudah dipelajari, mudah dipelihara, dan dapat dikendalikan oleh komunitas”.
Penerapan doktrin ini terekam jelas pada era 1990-an ketika Anshori memimpin proyek-proyek inovatif di wilayah pedesaan dan pesisir.
Ia menerapkan teknologi ini untuk merancang perahu nelayan di perairan Pangandaran, Jawa Barat, yang terbukti hemat biaya, tahan lama, dan kebal terhadap pelapukan biologis laut.
Lebih jauh lagi, dalam upaya penyediaan infrastruktur pemenuhan kebutuhan dasar air bersih, ia mengonstruksi tangki air, sumur, dan kamar mandi menggunakan perpaduan material lokal bambu-semen di wilayah terpencil seperti Buniwangi, Pelabuhan Ratu.
Inisiatif-inisiatif berbasis pedesaan ini secara holistik memenuhi kriteria diagram Tepat Guna, khususnya pada aspek padat karya _*(labor intensive*_) dan pengadopsian teknologi sederhana yang tepat fungsi.
Pembangunan lambung perahu nelayan maupun tangki air ferosemen tidak memerlukan pabrik peleburan skala besar atau alat cetak raksasa. Masyarakat sipil lokal dilibatkan secara langsung dalam proses penganyaman tulangan jaring kawat dan teknik pemlesteran mortar secara manual.
Hal ini secara mendasar menerjemahkan Prinsip Utama ke-4, yakni _*”memberdayakan masyarakat, bukan menggantikan mereka”.*_
Implikasi sosiologisnya sangat luas: _terjadi proses transfer pengetahuan (demistifikasi teknologi), peningkatan kapasitas keterampilan teknis pekerja lokal, yang pada gilirannya mendesentralisasikan modal dan kapabilitas produksi kembali ke tangan rakyat demi tercapainya keadilan sosial._
> Terdapat asumsi yang keliru bahwa Teknologi Tepat Guna hanya relevan untuk proyek-proyek filantropis pedesaan atau struktur berskala mikro.
Mahakarya arsitektur Menara Siger mendekonstruksi falasi tersebut, membuktikan bahwa filosofi E.F. Schumacher memiliki kapasitas tak terbatas untuk dielevasi pada skala monumental tanpa harus mengkhianati nilai inti kerakyatannya.
Berdiri dengan elevasi yang megah setinggi 110 meter di atas permukaan laut di atas bukit pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Menara Siger diresmikan sebagai ikon kebanggaan, penanda titik nol kilometer ujung selatan Pulau Sumatera, sekaligus gerbang kebudayaan Provinsi Lampung.
Monumen berskala nasional ini digagas pada rentang tahun 2004 hingga 2005 oleh Gubernur Lampung saat itu, Sjachroedin ZP, dengan menunjuk Ir. Anshori Djausal, M.T. sebagai insinyur dan d desainer kepala sekaligus perancang struktur tunggalnya.
Analisis struktural dan filosofis yang mendalam terhadap proses perancangan Menara Siger mengungkapkan sebuah integrasi radikal antara pilar Sumber Daya Lokal (Identitas Kultural) dan kelayakan Skala Manusia.
Pada ranah perancangan arsitektural (ideation), desain menara ini murni merupakan ekstrapolasi dari kekayaan lokal. Secara visual, bentuk fisiknya diadaptasi langsung dari bentuk mahkota Siger, yakni mahkota adat yang dikenakan oleh pengantin perempuan Lampung (muli Lampung) dalam upacara resmi kebesaran.
Berbeda dengan suntiang Minang, siger khas Lampung memiliki karakteristik spesifik berupa tujuh hingga sembilan tanduk atau pucuk kecil yang merepresentasikan stratifikasi dan filosofi kehormatan marga.
Namun, kedalaman filosofisnya tidak berhenti pada bentuk literal mahkota. Dalam proses inkubasi desain awalnya, Anshori mempertimbangkan secara serius sinkretisme dengan nilai kosmologi masyarakat Lampung, yakni *Kayu Ara*.
Kayu Ara direpresentasikan sebagai pohon kosmologis (_*Lampung’s cosmological tree)*_ yang memegang fungsi esensial dan sentral dalam setiap stratifikasi upacara adat Lampung.
Hal ini adalah sebentuk preservasi tingkat tinggi terhadap daya cipta kultural, membuktikan bahwa monumen modern dapat dibangun tanpa harus menjadi artefak asing di tanahnya sendiri.
Arsitektur ini merefleksikan nilai-nilai gotong royong dan kemajemukan (*Sakai Sambayan*) yang terejawantahkan dalam motif kain tapis yang membalut ornamen interior serta eksterior bangunan tersebut.
Tantangan terbesarnya bukan pada desain estetika, melainkan pada eksekusi teknis mekanika rekayasa. Terletak di puncak bukit pesisir, bangunan dengan bentang lebar ini harus menghadapi gaya hambat aerodinamis (_*drag force*_) dan tekanan angin siklik pesisir yang ekstrem.
Di titik inilah Anshori Djausal mengambil langkah yang tidak ortodoks namun brilian: _ia menolak penggunakan beton cetak konvensional secara penuh dan memilih untuk mengaplikasikan keahlian ferosemen yang diyakininya pada struktur kubah dan atap Menara Siger._
Teknologi ferosemen menawarkan keunggulan tak tertandingi dalam fleksibilitas pembentukan lengkungan-lengkungan organik mahkota siger, sembari memberikan durabilitas superior dan jaminan kemampuan menahan terpaan angin kencang di ketinggian 11
Ditulis oleh. Tauhid Nur Ashar(TNA)














