Sungkay post,Aksi tawuran antar kelompok remaja kembali menelan korban jiwa di Kota Bandarlampung. Fransius Sihombing (22) meninggal dunia usai terlibat bentrokan di Jalan Yos Sudarso, tepat di depan RS Budi Medika, Minggu dini hari, 10 Mei 2026.
Dalam kasus tersebut, polisi telah mengamankan seorang pelaku berinisial JK (16), warga Bumi Waras yang masih berstatus pelajar, beserta senjata tajam yang digunakan dalam aksi tawuran tersebut.
Merespons kejadian itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menegaskan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah pencegahan untuk meminimalisasi kenakalan remaja dan aksi kekerasan di kalangan pelajar.
“Kami sudah membuat surat edaran. Mulai pukul 07.00 sampai 15.30 saat proses pembelajaran berlangsung, siswa tidak boleh memegang handphone. Pengaruh negatif penggunaan handphone luar biasa, termasuk memancing keributan melalui media sosial,” kata Thomas kepada Kantor Berita RMOLLampung, Rabu, 13 Mei 2026.Menurutnya, pengawasan siswa di luar jam sekolah membutuhkan kerja sama antara sekolah dan orang tua. Sebab, banyak aksi tawuran maupun keributan terjadi pada malam hari di luar pengawasan sekolah.
“Kerja sama antara orang tua, guru dan siswa sangat penting untuk mengontrol mereka agar tidak melakukan kegiatan menyimpang,” ujarnya.
Thomas mengungkapkan pihaknya telah mengumpulkan kepala sekolah untuk melakukan pemetaan terhadap siswa maupun wilayah yang dinilai rawan terjadi tawuran dan kenakalan remaja.
“Sekolah diminta melakukan pengawasan lebih ketat dan berkoordinasi dengan orang tua. Jangan sampai kejadian seperti di Bumi Waras terulang lagi,” katanya.
Selain pengawasan, Disdikbud Lampung juga tengah memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Program tersebut dilakukan untuk mencegah kekerasan, bullying, hingga Kami sedang bekerja sama dengan beberapa pihak untuk penguatan karakter siswa, agar mereka tidak melakukan kekerasan maupun perundungan,” jelas Thomas.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam mendeteksi siswa yang berpotensi terlibat kenakalan remaja.
“Kami sedang membuat program penguatan guru BK, ada tujuh langkah yang dilakukan untuk pemetaan dan pendampingan siswa di masing-masing sekolah,” ungkapnya.
Dalam upaya pencegahan, Disdikbud Lampung turut menggandeng aparat kepolisian dan Densus 88 untuk memberikan pembinaan kepada para pelajar.
“Kami bekerja sama dengan Densus 88 untuk memberikan penguatan karakter dan wawasan kebangsaan. Senin kemarin ada sekitar 450 siswa yang dikumpulkan di Teknokrat, dan hari ini kegiatan dilanjutkan di SMA 14,” katanya.pengaruh negatif lingkungan pergaulan.Kami sedang bekerja sama dengan beberapa pihak untuk penguatan karakter siswa, agar mereka tidak melakukan kekerasan maupun perundungan,” jelas Thomas.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam mendeteksi siswa yang berpotensi terlibat kenakalan remaja.
“Kami sedang membuat program penguatan guru BK, ada tujuh langkah yang dilakukan untuk pemetaan dan pendampingan siswa di masing-masing sekolah,” ungkapnya.
Dalam upaya pencegahan, Disdikbud Lampung turut menggandeng aparat kepolisian dan Densus 88 untuk memberikan pembinaan kepada para pelajar.
“Kami bekerja sama dengan Densus 88 untuk memberikan penguatan karakter dan wawasan kebangsaan. Senin kemarin ada sekitar 450 siswa yang dikumpulkan di Teknokrat, dan hari ini kegiatan dilanjutkan di SMA 14,” katanyaProgram tersebut berisi edukasi mengenai bahaya narkoba, bullying, hoaks, hingga pengaruh komunitas negatif di media sosial.
“Jangan sampai siswa tergoda masuk komunitas yang merusak masa depan mereka. Kadang mereka merasa kuat karena komunitas di media sosial sehingga tidak mendengarkan nasihat guru maupun orang tua,” tuturnya.
Thomas juga mengingatkan para orang tua agar lebih aktif mengawasi aktivitas dan pergaulan anak di luar rumah.
“Orang tua harus kontrol. Anak berteman dengan siapa, pergi ke mana, itu harus dicek. Remaja sangat mudah terpengaruh, jadi pengawasan ayah dan ibu sangat penting agar anak tetap berada di jalur yang benar,” pungkasnya.(Ibnu hajar)














